gas air mata atau tear gas adalah alat yang sering dipakai polisi saat menghadapi unjuk rasa yang sudah rusuh. bentuknya seperti asap atau kabut yang kalau kena mata, hidung, dan kulit akan terasa panas, perih, dan bikin susah bernapas. tujuannya bukan untuk melukai parah, tapi untuk membubarkan massa yang sudah tidak terkendali dan membuat petugas bisa masuk ke lokasi.
cara kerja gas air mata sederhana. polisi biasanya menembakkan tabung kecil ke arah massa atau melemparkannya secara manual. saat tabung pecah, keluar zat kimia yang membuat orang merasa tidak nyaman. efeknya sementara, biasanya hilang dalam 15 sampai 30 menit setelah orang menjauh dan terkena udara segar. karena itu polisi menggunakannya sebagai pilihan terakhir setelah peringatan dan negosiasi tidak berhasil.
di indonesia, gas air mata beberapa kali dipakai saat unjuk rasa besar. contohnya pada aksi mahasiswa tahun 2019 di jakarta dan beberapa kota lain. waktu itu mahasiswa menolak rancangan undang-undang ketenagakerjaan dan beberapa uu lain. unjuk rasa awalnya damai, tapi di beberapa titik terjadi pelemparan batu dan pembakaran ban. polisi lalu menembakkan gas air mata untuk mendorong massa mundur dari gedung dpr dan jalan utama. banyak video beredar yang menunjukkan mahasiswa lari dan petugas damkar menyemprotkan air untuk membantu menetralkan efek gas.
contoh lain terjadi pada aksi demo buruh dan mahasiswa di jakarta tahun 2022. saat unjuk rasa memanas dan ada dorong-dorongan dengan polisi, aparat menggunakan gas air mata untuk memecah kerumunan yang mulai melempar botol dan benda keras. penggunaan ini biasanya disertai tembakan water cannon agar massa bisa dibubarkan tanpa kontak fisik langsung.
pemakaian gas air mata juga ada aturannya. menurut prosedur kepolisian, gas air mata hanya boleh dipakai kalau unjuk rasa sudah anarkis, mengancam keselamatan orang lain, atau merusak fasilitas umum. polisi juga diminta memberi peringatan dulu sebelum menembakkan. selain itu, gas air mata tidak boleh ditembakkan langsung ke kepala karena bisa menyebabkan luka serius.
meski tujuannya untuk meredam kerusuhan, penggunaan gas air mata tetap menimbulkan perdebatan. sebagian orang merasa ini efektif untuk mencegah korban lebih banyak. sebagian lain khawatir karena gas bisa mengenai warga biasa, anak kecil, dan orang yang sedang berada di sekitar lokasi. karena itu banyak kelompok meminta polisi memakai cara lain dulu seperti dialog dan pembatasan area.
intinya, gas air mata dipakai polisi sebagai alat untuk membubarkan massa yang rusuh agar tidak ada korban lebih besar. tapi penggunaannya harus sesuai aturan dan hanya saat keadaan benar-benar darurat.